Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami

Hangatnya Idul Adha di Pondok, dari Salat Berjamaah hingga Makan Kebuli Bersama

source : Spesial

Majalah Missi – Rabu pagi, 27 Mei 2026 Gema takbir berkumandang sejak pagi di lingkungan pondok pesantren saat seluruh santri dan asatiz berkumpul untuk melaksanakan salat Idul Adha berjamaah.

Perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga menghadirkan suasana hangat penuh kebersamaan dan pembelajaran bagi para santri yang menetap di pondok. 

Kegiatan berlangsung di masjid Ummul Quro Al-Islami dan diikuti oleh seluruh warga pesantren. Bertugas sebagai bilalialah Ust. Daniel Makarim dan diimami oleh Ust. Muhammad Nabil Muhdi, B.Sc. Sebelum salat dimulai, Ust. Nabil terlebih dahulu memberikan penjelasan mengenai tata cara pelaksanaan salat Idul Adha kepada para santri. Penjelasan tersebut diberikan agar para santri dan santriwati, khususnya santri-santriwati baru, dapat memahami tata cara pelaksanaan sholat Idul Adha dengan benar. “Kalau Idul Adha di pondok itu terasa lebih bermakna, karena santri di sini bukan hanya ikut-ikutan salat dan langsung pergi begitu saja, tapi juga belajar tata cara pelaksanaannya. 

Di situ ada nilai kebersamaan dan kemandirian yang dilatih,” ujar Ust. Fatih muzammil jidan. Setelah pelaksanaan salat selesai, khutbah Idul Adha disampaikan oleh Ust. Fajrur Rahman, B.Sc. Dalam khutbahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk terus meningkatkan kualitas takwa melalui amar ma’ruf nahi munkar. Beliau juga menjelaskan tentang Hari Tarwiyah dan keutamaannya, dan juga tentang Arafah serta keutmaannya lalu dilanjutkan pada pembahasan sejarah Idul Adha, hingga asal mula penamaan Hari Arafah. Selain itu, beliau menegaskan bahwa Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan atau momen berkumpul bersama, tetapi juga pengingat atas perjuangan dan pengorbanan para nabi terdahulu. 

Menurut beliau, dalam Idul Adha mengandung banyak hikmah, diantaranya bahwa pengorbanan adalah bukti cinta, ketangguhan keluarga dimana nabi Ibrahim harus merelakan anaknya Ismail agar dikorbankan, walupun pada akhirnya Allah menggantikannya dengan domba yang besar, hingga meyakini adanya taqdir-taqdir Allah. 

Pelaksanaan salat berjamaah di pondok juga dinilai memiliki nilai sosial yang kuat karena menjadi sarana berbagi ilmu antar warga pesantren “Yang belum tahu jadi belajar, dan yang sudah tahu bisa membantu mengajarkan. Jadi ada proses berbagi ilmu juga,” tambah ustaz tersebut. 

Suasana Idul Adha di pondok turut meninggalkan kesan tersendiri bagi para santri, terutama santri kelas 1 yang baru pertama kali merayakannya jauh dari keluarga. Salah satu santri mengaku sempat merasa sedih karena tidak bisa pulang ke rumah seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Namun suasana hangat di pondok perlahan mengubah perasaannya. “Awalnya kecewa karena biasanya habis salat bisa kumpul sama teman-teman di rumah. Tapi pas tahu di pondok ada makan kebuli bareng, jadi senang lagi dan malah excited,” katanya. Kebersamaan semakin terasa saat seluruh santri berkumpul mengikuti acara makan bersama setelah rangkaian ibadah selesai. 

Pondok menyediakan hidangan nasi kebuli dan ayam yang dimasak langsung oleh tim dapur pondok dalam jumlah besar. Di balik hidangan tersebut, terdapat persiapan panjang yang dilakukan tim dapur sejak pagi hari. Mereka harus membagi tugas, menyiapkan bahan dalam jumlah banyak, hingga memastikan seluruh makanan dapat tersaji tepat waktu untuk para santri. “Karena porsinya besar dan menunya berbeda, tentu persiapannya lebih banyak. Tenaganya juga lebih ekstra. 

Tapi kami menikmati prosesnya dan menganggap ini bagian dari pelayanan untuk santri,” ungkap perwakilan tim dapur pondok. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, perayaan Idul Adha di pondok tidak hanya menjadi pelaksanaan ibadah tahunan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang pengorbanan, kepedulian sosial, serta pentingnya menjaga kebersamaan di lingkungan pesantren. 

Teks Oleh : Darr & Inizzp_