Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami

PESANTREN DARI MATA SANTRI BARU

source : Spesial
Lambaian tangan orang tua menjadi hal terakhir yang dilihat untuk memulai hidup mandiri di balik gerbang pesantren. Suara tangisan rindu akan kehadiran orang tua terdengar di setiap malam. Bahkan setiap langkah yang diambil, pikiran dan hati masih berada di bawah atap rumah yang nyaman dan hangat, tapi kenyataannya fisik serta mental sudah diuji di tempat yang bernama pesantren. 

Dalam kehidupan selalu ada yang bernama adaptasi, ketika seseorang harus menyesuaikan diri dalam lingkungan yang berbeda dengan lingkungan sebelumnya. Ada beberapa hal tak terduga yang dialami saat mulai beradaptasi, apalagi saat berada di lingkungan pesantren, seperti antrean panjang dalam beraktivitas. Kegiatan seperti mandi, berwudhu, serta membeli atau mengambil makan tidak luput dari yang namanya antrean. 

Ketika hidup di rumah selalu bisa leluasa, kini di pesantren dengan ribuan santri melakukan kegiatan dan aktivitas bersamaan, membuat barisan panjang yang menuntut mereka melatih kesabaran, serta aturan ketat yang wajib dipatuhi di dalam lingkungan pesantren. 

Tidak semua manusia dapat beradaptasi secara individu. Mereka yang berusaha beradaptasi pada lingkungannya kerap membutuhkan dorongan atau motivasi dalam proses yang memiliki tujuan, yakni membuat mereka betah pada lingkungan tersebut. 

Begitu pula dalam lingkungan pesantren. Dalam lingkungan ini, proses betah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun beberapa santri dapat betah dan nyaman dalam lingkungan ini karena orang-orang di sekitarnya, seperti teman sekamar, wali kamar, dan teman-teman yang selalu memberikan rangkulan serta kalimat pembangkit semangat yang dapat mengubah mindset atau pemikiran bahwa lingkungan yang jauh berbeda dengan zona nyaman kita ini tidak seburuk itu, dan kita masih memiliki orang-orang yang dapat memberikan senyuman dan pencerahan bagi kita yang hampir jatuh. 

Kalimat “pesantren ialah penjara” bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan. Pesantren merupakan tempat menempa diri menjadi lebih kuat dari sebelumnya, tempat lantunan Qur’an yang didengar setiap hari, dan tempat mengasah ilmu agama agar bisa lebih tahu dan lebih mengenal agama yang telah kita anut sedari kecil. Air mata yang tumpah di minggu-minggu pertama bukanlah tanda kelemahan, melainkan proses rontoknya seorang anak rumahan. 

Teks: Fathiah dan Naila

Galeri Singkat Pesantren: