BOGOR, MAJALAH MISSI — Pondok Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami (PMUQI) menggelar Grand Final Theater 2026 pada Selasa malam (27/10/2026) di basement Masjid Jami’ Ummul Quro Al-Islami. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) sekaligus puncak perlombaan teater antarsantri putra dan putri.
Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan pembacaan selawat dan sambutan dari Ustaz Masykur Rahim. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa peringatan HSN merupakan momentum untuk mengenang perjuangan para ulama sekaligus memperkuat persaudaraan di kalangan santri.
“HSN bukan sekadar hari tahunan santri, tetapi bagaimana kita mengenang perjuangan para ulama. Menjadi santri bukan sekadar menuntut ilmu, melainkan juga memperkuat tali persaudaraan dan persamaan,” ujarnya.
Rangkaian acara selanjutnya dipandu oleh Ustaz Aulia Rahman dan Ustaz Imam Nawawi selaku moderator. Penampilan pertama dibawakan oleh santri putri dengan mengangkat pesan tentang tujuan pendidikan di pesantren. Melalui pertunjukan tersebut, santri diajak memahami bahwa pendidikan pesantren merupakan bekal untuk memberikan manfaat kepada masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan.
Setelah penampilan santri putri, acara diselingi dengan pembagian hadiah kepada para pemenang berbagai perlombaan HSN. Pertunjukan kemudian dilanjutkan oleh santri putra yang mengangkat tema “Sejarah Hari Santri Nasional”. Penampilan ini mengajak para santri mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia serta memahami makna HSN lebih dari sekadar peringatan tahunan.
Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, perlombaan teater tahun ini mengusung konsep kolaborasi lintas angkatan. Panitia memilih lima santri dari setiap angkatan, mulai dari kelas satu hingga kelas enam, yang memiliki kemampuan dasar dalam seni drama. Para peserta kemudian digabungkan ke dalam satu tim untuk membangun kerja sama antara kakak kelas dan adik kelas.
Konsep tersebut dirancang untuk mempererat silaturahmi dan membangun kedekatan antarsantri melalui proses latihan hingga persiapan pertunjukan. Dengan melibatkan peserta dari berbagai tingkatan kelas, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi yang mendorong santri untuk bekerja sama tanpa memandang perbedaan usia maupun angkatan.
Ustaz Bayu Pangestu selaku penanggung jawab perlombaan menjelaskan bahwa konsep tersebut dipilih untuk membangun kedekatan dan memperkuat persaudaraan di lingkungan pesantren.
“Alasannya untuk membuat chemistry antara kakak kelas dan adik kelas, membangun tali persaudaraan. Kita tidak melihat siapa yang paling tua dan siapa yang paling muda. Ini juga untuk menjalin silaturahmi antarang katan,” tuturnya.
Melalui Grand Final Theater 2026, para santri tidak hanya menunjukkan kemampuan dalam seni peran, tetapi juga belajar bekerja sama dan membangun hubungan yang lebih erat dengan sesama santri. Semangat Hari Santri Nasional pun menjadi pengingat akan pentingnya persaudaraan, penghargaan terhadap perjuangan ulama, serta peran santri dalam kehidupan bermasyarakat.
Teks: Fairuz dan Nauval





