BOGOR, MAJALAH MISSI — Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami menggelar kegiatan Become a Great Public Speaker pada Selasa (20/10/2026) di basement Masjid Jami’ Ummul Quro Al-Islami. Kegiatan yang dipandu Ustaz M. Rizky Waluya, S.Sos., M.Comm., ini diikuti pengurus kelas 5 MA putra dan putri.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan pengurus dalam memimpin anggota, menyampaikan pengumuman, dan menggunakan bahasa Arab maupun Inggris dalam komunikasi sehari-hari. Pengurus juga diharapkan menjadi teladan (role model) bagi santri lainnya.
Dalam pemaparannya, Ustaz Waluya menekankan pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
“Kenapa kita harus jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain? Karena kalau hidupmu hanya sebatas sarjana, magister, doktor, lalu mendapatkan kerja impian dan menikah, maka hidupmu terlalu murah. Jangan berhenti karena sudah merasa cukup. Agama kita bahkan mengajarkan sebaik-baiknya muslim adalah yang bermanfaat bagi yang lain,” tuturnya.
Kegiatan berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama diisi dengan penyampaian materi oleh Ustaz Waluya selaku pembimbing Bagian Bahasa. Sesi kedua dilanjutkan dengan diskusi bersama pembimbing masing-masing bagian untuk menyusun pengumuman menggunakan bahasa Arab atau Inggris.
Dalam diskusi tersebut, para pengurus berlatih menyusun pengumuman tertulis yang akan diserahkan kepada Bagian Bahasa. Latihan ini menjadi sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa asing, terutama ketika menyampaikan informasi kepada adik kelas.
Ustaz Waluya juga mengingatkan bahwa rasa takut adik kelas tidak memahami bahasa asing seharusnya tidak menjadi alasan bagi pengurus untuk menghindarinya. Pembiasaan menggunakan bahasa justru diperlukan agar para santri dapat belajar dan memahami penyampaian tersebut secara bertahap.
Salah satu pengurus berharap kegiatan ini dapat mendukung kedisiplinan pesantren sekaligus meningkatkan minat santri dalam menggunakan bahasa asing.
“Harapan saya, dengan adanya diskusi tentang penyampaian pengumuman menggunakan bahasa asing, kegiatan ini menjadi salah satu wasilah yang mendukung kedisiplinan pesantren serta meningkatkan kemauan dan wawasan santri terhadap bahasa Arab atau Inggris yang diwajibkan di pesantren modern UQI,” ujarnya.
Salah satu anggota Bagian Bahasa juga berharap para pengurus dapat mempraktikkan kemampuan tersebut ketika berkomunikasi dengan anggota. Menurutnya, pengurus Bagian Bahasa perlu menjadi teladan dalam penggunaan bahasa asing.
Kegiatan ini turut diikuti oleh para ISPA yang mendukung peningkatan kualitas kepengurusan. Salah satu perwakilan ISPA menyampaikan bahwa kemampuan berbahasa dan ibadah menjadi dua indikator utama dalam kepengurusan periode ke-29.
Ia berharap kegiatan ini dapat mendorong pengurus dan santri lebih terbiasa menggunakan bahasa asing sehingga mampu berbicara di depan umum dengan percaya diri.
Melalui pembekalan ini, para pengurus diharapkan mampu meningkatkan keterampilan komunikasi, membangun kedisiplinan berbahasa, dan menjadi teladan bagi anggota dalam kehidupan sehari-hari di pesantren.




