Skip to main content

Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami

Alumni Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami : Aziz Awaludin Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Di Kota Madison, Wisconsin, Amerika Serikat, sebuah pengumuman resmi keluar dari Departemen Educational Leadership and Policy Analysis Universitas Wisconsin-Madison. Aziz Awaludin, sarjana asal Bogor yang menempuh pendidikan menengah di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami angkatan 9, namanya tercantum sebagai salah satu penerima Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award untuk tahun akademik 2025-26.

Penghargaan ini diberikan berdasarkan evaluasi fakultas terhadap pengembangan dan presentasi pertanyaan penelitian, orisinalitas, pelaksanaan studi, penggunaan literatur yang tepat, serta kontribusi keseluruhan karya terhadap pengetahuan dan praktik. Penghargaan ini dinamai berdasarkan Profesor Emerit ELPA, Dr. Carolyn Kelley, untuk menghormati dedikasinya yang luas dalam memimpin komite-komite disertasi.

Disertasi Awaludin berjudul Networking for Equity: Investigating a Nationwide Initiative to Redesign School Principal Preparation Programs in the U.S. Penelitian ini mendokumentasikan peran kolaborasi lintas organisasi dalam Equity-Centered Pipeline Initiative, sebuah inisiatif nasional selama enam tahun senilai 102 juta dolar yang didanai Wallace Foundation.

Alumni Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami : Aziz Awaludin Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

ECPI melibatkan lebih dari 70 organisasi di 21 negara bagian, termasuk delapan distrik sekolah perkotaan besar dan 16 universitas. Data jaringan dikumpulkan dalam tiga gelombang antara 2022 dan 2023, dengan jumlah peserta meningkat dari 110 menjadi 194 orang, dan koneksi antar peserta melonjak dari 76 menjadi 804.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada awal inisiatif, universitas dan lembaga bantuan teknis mendominasi desain program. Namun seiring berjalannya waktu, distrik sekolah justru menjadi jembatan kunci dalam menghubungkan orang, berbagi informasi, dan melintasi batas organisasi. Kemitraan antara distrik dan universitas pun bergeser dari model universitas menyediakan program menjadi ko-konstruksi.

Jauh sebelum menembus UW-Madison, Aziz Awaludin adalah santri Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami di Leuwiliang, Bogor. Ia masuk pada 2002 dan lulus 2008 sebagai angkatan ke-9, jurusan IPA.

Aziz mengaku awalnya tidak betah di pesantren, tapi senang berada di lingkungan pendidikan. Ia suka ruang kelas, papan tulis, kapur berwarna, dan teman-teman dengan segala kenakalan remaja. Ia pernah menjadi pengurus bagian bahasa di pesantren, meski kemampuan bahasa Inggris dan Arabnya biasa saja. Dari situ ia melanjutkan ke jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Satu petuah yang ia ingat betul datang dari Ustadz Haris Kasyi saat ia kelas 3 MTs “Taharroquu, fainnal barokah fil harokah. Bergeraklah kalian semua, karena sesungguhnya keberkahan itu ada pada pergerakan.”

Oleh karena itu setelah lulus dari pesantren pada tahun 2008, Aziz mengabdi di Pesantren Al-Anshor, Sumatera Utara. Di sana ia menyusun Kamus Santri, kamus tematik tiga bahasa dengan lebih dari 18 ribu entri. Keuntungan dari penjualan kamus itu dipakai untuk biaya kuliah di UIN Jakarta.

Di UIN, ia aktif di FLP, BEM, HMI, dan NGO internasional. Lulus 2015 sebagai wisudawan terbaik jurusan, ia langsung melamar beasiswa LPDP. Seleksi dilewati, 2016 ia berangkat ke Monash University, Australia, untuk Master of Education in Educational Leadership and Policy.

Pada 2021, Aziz menerima beasiswa doktoral Fulbright untuk menempuh studi di University of Wisconsin-Madison. Ia memilih Amerika Serikat, meski tahu S3 di sana bisa memakan waktu hingga tujuh tahun dan sangat sulit lulus. “Sepertinya, saya ingin merasakan tantangan itu,” katanya.

Sebelum ke Amerika, ia bekerja sebagai peneliti di PPIM UIN Jakarta dan pernah menjadi communications intern di Kantor Staf Presiden. Ia juga pendiri @digitalpesantren, platform pendidikan Islam daring, serta penulis novel April (2017).

Bagikan Berita: