Di Balik Gelar Wisudawan Terbaik USIM, Ada Perjalanan Panjang Muhammad Rizki Waluya
BOGOR, MAJALAH MISSI — Kebanggaan menyelimuti Muhammad Rizki Waluya dalam Majlis Konvokesyen ke-24 Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Selasa (3/11/2026). Pemuda asal Bogor tersebut berhasil meraih gelar Master of Communication and Media Management sekaligus dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik di Faculty of Leadership and Management (Fakulti Kepimpinan dan Pengurusan/FKP) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90.
Dalam prosesi wisuda tersebut, ijazah Rizki diserahkan langsung oleh Canselor USIM, Duli Yang Maha Mulia Tunku Ampuan Besar Negeri Sembilan, Tuanku Aishah Rohani. Namun, pencapaian itu bukan sekadar tentang gelar akademik. Di balik keberhasilannya, tersimpan perjalanan panjang yang diwarnai pengorbanan, kerinduan keluarga, serta perjuangan untuk terus berkembang di negeri orang.
Nita, kakak perempuan Rizki, mengungkapkan bahwa keberhasilan sang adik merupakan kebahagiaan yang sulit dipisahkan dari berbagai pengorbanan keluarga. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Rizki telah meninggalkan rumah sejak menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar untuk melanjutkan pendidikan di Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami (PMUQI).
Rizki merupakan santri angkatan ke-20. Setelah menyelesaikan pendidikan di PMUQI, ia melanjutkan studi sarjana (S1) di Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI). Kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di Malaysia melalui beasiswa penuh dari pihak pesantren kembali membuatnya harus menjalani kehidupan jauh dari keluarga.
Bagi keluarga, terutama sang ibunda, jarak dan kesibukan Rizki menjadi tantangan tersendiri. Komunikasi yang tidak selalu dapat dilakukan membuat kerinduan semakin terasa.
“Ibu saya sering merasa sedih dan kangen banget, karena Rizki di sana sangat sibuk. Jangankan pulang, untuk menelepon pun jarang,” kenang Nita.
Padatnya aktivitas akademik dan organisasi membuat Rizki harus mengatur waktu dengan cermat. Bahkan, tidak jarang kelelahan membuatnya langsung tertidur setelah tiba di tempat tinggalnya.
“Kadang kalau sampai kosan, dia sudah terlalu lelah dan langsung tertidur. Tapi kami yakin sepenuhnya kepada Allah, dan keluarga mengizinkan langkahnya dengan ikhlas,” tambahnya.
Kesibukan Rizki selama menempuh pendidikan di USIM bukan tanpa tanggung jawab. Selain menjalankan amanah sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) USIM periode 2025 dan Head of Public Relations di International Students Association, ia juga harus menghadapi tantangan akademik, terutama dalam penggunaan bahasa Inggris.
Prof. Dr. Norhayati Rafida Abdul Rahim, Deputy Dean of Research and Innovation FKP USIM sekaligus dosen pembimbing tesis Rizki, menyaksikan langsung kesungguhan mahasiswanya tersebut. Menurutnya, mahasiswa Indonesia kerap menghadapi tantangan dalam penggunaan bahasa Inggris karena bahasa tersebut digunakan sebagai bahasa pengantar pembelajaran di USIM.
Meski demikian, Rizki menunjukkan kemauan belajar yang tinggi. Ia bahkan bersedia meluangkan waktu untuk berkonsultasi dan memperdalam pemahaman akademiknya.
“Dia memiliki antusiasme dan usaha yang luar biasa untuk belajar. Terkadang, dia rela menunggu saya sampai sore hari setelah saya selesai bekerja, hanya untuk belajar dari saya,” ungkap Prof. Norhayati.
Kesungguhan tersebut turut tercermin dalam penyelesaian tesisnya yang membahas reputasi public relations USIM di mata mahasiswa internasional. Tidak hanya menyelesaikan penelitian, Rizki juga berkesempatan mempresentasikan hasil risetnya dalam berbagai konferensi, mulai dari Jakarta dan Bandung hingga Uzbekistan.
Prof. Norhayati juga mengapresiasi keberanian Rizki dalam mengambil kesempatan akademik. Menurutnya, Rizki merupakan mahasiswa yang selalu bersedia ketika diminta untuk mempresentasikan hasil penelitian.
“Satu hal yang sangat langka dari Rizki, dia tidak pernah mengatakan ‘tidak’. Kapan pun saya memintanya untuk mempresentasikan riset di konferensi, dia selalu siap dan tak pernah menolak,” tambah Prof. Norhayati.
Kini, perjalanan panjang tersebut mengantarkan Rizki pada pencapaian yang membanggakan. Pengalaman akademik, kepemimpinan, dan pengabdian selama menempuh pendidikan di Malaysia menjadi bekal untuk melangkah ke fase berikutnya.
Dalam kesempatan berbeda, Naib Canselor USIM, Profesor Dato’ Ts. Dr. Sharifudin Md Shaarani, menekankan pentingnya mengintegrasikan kecerdasan akademik dengan kepemimpinan yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan pengabdian. Pesan tersebut sejalan dengan langkah Rizki setelah menyelesaikan studinya.
Alih-alih melanjutkan perjalanan jauh dari almamater, Rizki memilih kembali ke lingkungan yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya. Ia kini mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Bahasa di PMUQI.
Gelar magister dan predikat Wisudawan Terbaik menjadi pencapaian penting dalam perjalanan Rizki. Namun, kepulangannya untuk mengabdi menghadirkan makna lain dari keberhasilan: ilmu yang diperoleh di negeri orang kini menjadi bekal untuk berkontribusi bagi almamater yang telah membesarkannya.





