Skip to main content

Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami

Kang Abik Kunjungi PMUQI, Bagikan Kisah di Balik Lahirnya Novel Ayat-Ayat Cinta

BOGOR, MAJALAH MISSI — Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami (PMUQI) menggelar acara bedah buku bersama novelis Habiburrahman El Shirazy, yang akrab disapa Kang Abik, pada Minggu (25/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di lantai bawah Masjid Jami’ PMUQI ini membahas perjalanan kepenulisan, pesan dakwah dalam karya sastra, serta nilai-nilai kemanusiaan yang diangkat melalui novel.

Acara diawali dengan pembacaan selawat, dilanjutkan pembukaan oleh Ustaz Enang Sulaeman, S.H.I., dan dipandu oleh moderator Malvino Erlangga. Dalam sesi utama, Kang Abik berbagi pengalaman mengenai perjalanan kreatifnya hingga menghasilkan berbagai karya yang dikenal luas oleh pembaca.

Selain dikenal sebagai novelis, Habiburrahman El Shirazy juga berkiprah sebagai pendakwah, pimpinan pesantren, dan sutradara. Sejumlah karyanya antara lain Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Bumi Cinta, dan Suluh Rindu. Karya-karya tersebut mengangkat beragam tema, termasuk cinta, pendidikan, keislaman, dan kehidupan sosial.

Kang Abik Kunjungi PMUQI, Bagikan Kisah di Balik Lahirnya Novel Ayat-Ayat Cinta

Kang Abik menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap sastra mulai tumbuh sejak duduk di bangku madrasah aliyah dan semakin berkembang ketika melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia juga membagikan pengalaman menghadapi kesulitan finansial selama menempuh pendidikan di Mesir, yang menjadi salah satu bagian dari perjalanan awalnya dalam dunia kepenulisan.

Salah satu karya yang mendapat perhatian luas adalah novel Ayat-Ayat Cinta. Kang Abik menjelaskan bahwa karya tersebut lahir dari keinginannya untuk menyampaikan pesan tentang Islam yang penuh kasih sayang, sekaligus merespons pandangan negatif terhadap pesantren yang berkembang pada masa itu.

Melalui karya sastra, ia ingin menunjukkan bahwa Islam tidak identik dengan kebencian dan peperangan, melainkan mengajarkan cinta, kedamaian, dan penghormatan terhadap sesama. Pesan kemanusiaan tersebut juga tercermin dalam kepeduliannya terhadap persoalan Palestina.

Kang Abik turut menceritakan pengalamannya menghadiri pertemuan internasional para penulis di Asia. Dalam forum tersebut, ia mempertanyakan tidak adanya bendera Palestina ketika bendera Israel terlihat di lokasi acara. Menurut ceritanya, ia menyampaikan keberatan kepada panitia hingga persoalan tersebut mendapat tanggapan.

Pada kesempatan itu, Kang Abik juga memperkenalkan kisah dalam novel Ayat-Ayat Cinta 3, yang mengisahkan Fahri dan Maria melakukan perjalanan ke Gaza serta membantu anak-anak yang mengalami kelaparan.

“Buku ini menceritakan Fahri bersama dengan istri tercintanya, Maria, mereka berdua pergi ke Gaza. Di sana mereka memberi makan anak-anak jalanan, karena ternyata di sana banyak anak yang kelaparan. Bagi yang mau tahu kelanjutan kisah Fahri bisa baca di buku Ayat-Ayat Cinta 3,” ajaknya kepada peserta.

Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi santri dan peserta untuk mengenal lebih dekat proses kreatif seorang penulis sekaligus memahami bagaimana sastra dapat digunakan untuk menyampaikan pesan keislaman dan kemanusiaan. Melalui kegiatan bedah buku, PMUQI turut mendorong tumbuhnya minat baca, kreativitas, dan semangat berkarya di kalangan santri.

Teks: Fayyaz dan Faris

Bagikan Berita: